ads

ads

Slider

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


REPORTASE - "Bang, sekarang saya sudah bersama  Fauzan Noor dan pelatihnya," kata Komandan Korem (Danrem) 101/Antasari, Banjarmasin, Kolonel (Infanteri) Yudianto Putrajaya melalui sambungan telepon, Senin (16/7) malam.

Fauzan Noor (21 tahun) karateka dari Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI). Ia memenangi kejuaraan kumite (perkelahian) karate versi Internasional Traditional Karate Federation (ITKF) di Praha, Republik Ceko, akhir 2017 hingga awal 2018 lalu.

Walau meraih prestasi dunia, ternyata karateka Fauzan dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, tidak mendapatkan hadiah apa pun. Berbeda dengan pelari cepat Lalu Muhammad Zohri (18 tahun) dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Usai menjadi juara dunia junior lari 100 meter di Finlandia, baru-baru ini, Zohri banjir hadiah dari berbagai pihak.

loading...

Bahkan ditawari untuk menjadi anggota TNI, Polri dan ASN (aparatur sipil negara) setamat SMA. Fauzan tamat SMAN 13 Banjarmasin pada 2015 lalu, sama sekali tidak mendapatkan tawaran bekerja seperti Zohri.

"Sebenarnya saya sudah pernah nyoba ikut tes polisi dan Satpol PP karena ada tawaran, namun ternyata tidak ada tindak lanjut hingga sekarang,” ucap Fauzan, kecewa.

Dalam percakapan melalui telepon, Fauzan mengaku sudah menyampaikan keinginannya kepada Komandan Korem untuk menjadi abdi negara seperti harapan kedua orangtuanya. "Dia katanya ingin jadi tentara saja. Ya, sudah kalau itu maunya, TNI akan membantu melalui jalur prestasi," kata Kolonel Putrajaya.

"Bekas narapidana, penjahat, preman, dan pengangguran pun kami berdayakan. Kami latih bela negara dan pembekalan ketrampilan. Apalagi Fauzan dengan prestasi karate dunia, pasti kami urus," ujar Putrajaya.
Danrem mengaku awalnya dihubungi Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Letnan Jenderal Doni Monardo. "Jenderal Doni mengirim tulisan abang dan saya diminta segera menindaklanjuti," ujar Putra.

loading...

Ia kemudian berinisiatif mengundang Fauzan Noor dan pelatihnya, Mustafa ke  rumah dinasnya, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Senin (16/7/2018) malam.

Tulisan yang kemudian menjadi viral itu, kata Putra, tentu saja akan menggugah sejumlah pihak. Apalagi prestasi Fauzan juga mengharumkan kota, provinsi dan nama bangsa di dunia internasional. “Sebelumnya saya tidak tahu, kemudian ada pemberitaan terkait Fauzan. Saya perintahkan Dandim untuk mencari informasinya. Saya atas nama TNI memberikan apresiasi terhadap Fauzan,” katanya.

Fauzan yang kini bekerja sebagai pelayan toko ritel, mengaku senang mendapatkan perhatian langsung dari Komandan Korem. Ia menceritakan sebelum betangkat ke Ceko penuh dengan kekhawatiran, karena tidak ada yang membiayai keberangkatannya.

"Saya dibiayai seorang senior karate dari Ceko untuk sampai Kota Praha. Tadinya untuk beli tiket pesawat ke Jakarta pun tidak ada uangnya," ujar Fauzan.

Ia putra ketiga dari ayah yang bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai tukang pijat. Ayahnya bernama Adnan Firdaus (60 tahun) dan ibunya, Jamariyah (56 tahun). Rumah keluarga itu pun belum pernah direnovasi walau sejumlah bagian terlihat sudah lapuk. "Uang dari mana? Saya belum bisa bantu bapak dan ibu."

Untuk bekal selama kejuaraan di Ceko, Fauzan dan pelatihanya, Mustafa, membekali diri dengan mie instant, kacang bungkus, telur asin, ikan asin dan makanan ringan yang murah meriah. Dibeli dari uang recehan hasil tabungannya.

Kini,  setelah berita tentang dirinya viral, sejumlah pihak, termasuk pemerintah Kota Banjarmasin, dan Pemprov Kalimantan Selatan, kembali menawarkannya untuk bekerja di Pemkot atau Pemprov.
"Saya mengucapkan terima kasih banyak atas perhatiannya. Walau sebelumnya saya kecewa, karena lamaran saya tidak ditindaklanjuti."

Fauzan sudah 12 tahun mengikuti karate. Dia mulai berlatih karate sejak kelas 3 SD dan telah memenangi berbagai kejuaraan  tingkat provinsi hingga nasional. Sekitar 20 medali emas dan piala diraihnya.
Namun, prestasinya itu tak sebangun dengan kesejahteraan hidupnya. Ia ingin nasibnya lebih baik daripada orangtuanya yang hanya sebagai kuli bangunan.

Ia mengakui karate memang olahraga keras. Ia baru bisa meraih sabuk hitam setelah 10 tahun berlatih karate tradisional.

Di dunia karate, terpecah menjadi dua badan. Selain ITKF sebagai karate tradisional, ada pula World Karate Federation (WKF) sebagai karate umum. Sehingga di Indonesia pun ada dua federasi karate, yakni FORKI (Federasi Olah Raga Karate Indonesia) dan FKTI. FORKI sebagai karate umum dan FKTI sebagai karate tradisional.

Pada final kejuaraan dunia ITKF, Fauzan mewakili Asia melawan juara Eropa asal Ceko. Bagai David melawan Goliath, Fauzan dengan tinggi badan sekitar 163 cm dan berat sekitar 62 kg. Sedangkan lawannya dengan tinggi sekitar 190 cn dan berat sekitar 90 kg.

Keajaiban terjadi pada laga final. Fauzan berhasil mengalahkan raksasa Eropa dari Ceko. "Saya lupa namanya. Susah menghapalnya. Hurufnya pun agak berbeda," kata Fauzan.

Untuk karate versi ITKF memang tidak mengenal pembagian kelas berdasarkan berat badan karateka. Dalam pertandingan kumite pun tidak menggunakan sarung tangan, pelindung kepala, mulut, dan tubuh. Berbeda dengan versi WKF yang agak mirip dengan Taekwondo.

Selamat untuk Fauzan. Semoga berhasil menjadi tentara dan tetap menjadi atlet karate. Harumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Fauzan Noor. Termasuk Korem Antasari Banjarmasin Kalsel, Pemkot Banjarmasin, Pemprov Kalsel, KONI, FKTI, dll.

Share/Bagikan Artkel ini..
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Top